Bagi teman yang membutuhkan Kalender Tahun 2009
ini ada komplete dengan cuti bersamanya.
bisa donwload disini
Untuk SKBnya donwload disini
Kamis, 2008 Desember 18
Kalender Tahun 2009
Jumat, 2008 Oktober 17
Tips

Berhati-hatilah! ARPAL SINDROM bagi Pengguna KOMPUTER
Bagi Anda yang selalu bekerja dengan menggunakan KOMPUTER
Kesalahan dalam penggunaan MOUSE sehari-hari
Akan berakibat pada KARPAL SINDROM!
GUNAKAN MOUSE dengan BAIK dan BENAR!
Pembedahan Pasien dengan KARPAL SINDROM
Pembedahan Pasien dengan KARPAL SINDROM


Tata Cara Bekerja dengan KOMPUTER











SENAM TANGAN untuk menghindari KARPAL SINDROM
Minggu, 2008 Agustus 24
Sejarah agama Hindu (Brahma)
Sebelum membicarakan agama Hindu (Brahma) ini, lebih dulu kita perlu membicarakan bangsa yang mula-mula menganut dan membawanya.
1.Kepercayaan kepada Tuhan dalam agama Hindu (Brahma)
2.Kitap-kitab suci agama Hindu
3.Ibadat (Pemujaan)
4.Empat kasta (Catur Warna)
5.Peminkiran tentang bahagia (timbulnya berbagai aliran)
6.Wedanta, Ssamkhya dan Yoga
7.Nyanyian Yoga dalam bertapa
8.Waisnawara dan Caiwa
9.Kitab Purana
10.Cakta (kesaktian) dan kitab Tantra
11.Binatang yang dihormati dan berbagai upacara
12.Pengaruh Hindu/Brahma kepada penganut agama lain ( dibahas berikutnya).
Suatu suku bangsa pengembara yang terkenal dengan nama Arya, ke luar dari tempat mereka yang terakhir di Asia Tengah , meneruskan perjalanan dan pengembaraan; sebahagian menuju Eropa di zaman Purba, sebagian memasuki dataran tinggi Iran dan sebahagian lagi menju Punjab daerah India.
Ketika mereka sampai di lembah-lembah sungai Shindhu, mereka bertemu dengan penduduk asli daerah itu, yaitu bangsa Dravida.
Bangsa arya memasuki daerah Punjab bukanlah dengan tenang dan aman, tetapi dengan peperangan dan kekerasan. Bangsa Dravida bertahan sekuat-kuatnya, tetapi akhirnya mereka dikalahkan oleh bangsa pendatang itu; Penduduk yang telah ditaklukkan itu meraka namai “Dasyu” (artinya budak). Dari kasta-kasta Dasyu itulah diambilkan nama buat kasta Syudra. Peristiwa ini terjadi lebih kurang 20 abad sebelum masehi.
Setelah bangsa Arya yang pertama beroleh kemenangan di India, maka datanglah menyusul berturut-turut kabilah-kabilah bangsa Arya dari Asia tengah menuju daerah Punjab atau lembah sungai Shindu. Sehingga daerah Punjab tiak lagi mencukupi untuk kediaman meraka, apalagi mereka kurang pula biasa dalam hal mengolah tanah untuk menghidupan. Mereka mulai menyebar mencari daerah yang lain memasuki lembah sungai Gangga dan Yanmu (daerah dua sungai).
Di daerah Punjab mereka masih dapat mempertahankan kemurnian darah mereka, belum bercamput dengan penduduk asli, begitu juga dalam adat istiadat dan kebudayaan mereka tetapi di daerah Gangga dan Yanmu mereka terpaksa bergaul dengan penduduk asli, apalagi kedatangan mereka ke sana bukahlah dengan peperangan tetapi dengan jalan damai.
Dari percampuran bangsa Arya dengan bangsa yang mereka dapati di India, tibullah suatu bentuk bangsa yang baru yang dikenal dengan sebutan “Hindu” dibangsakan kepada daerah yang mula-mula mereka dapati di India yaitu lembah Sungai Shindu, dan agama yang mereka anutpun dibangsakan pula kepada nama Hindu itu.
Kepercayaan kepada Tuhan dalam agama Hindu (Brahman):
Tuhan dalam agama Hindu disebut Brahma. Kalimat Brahma dalam bahasa Hindu lama (Sanskerta) yaitu nama bagi Tuhan yang wujud dengan sendirinya, Maha Esa dan Maha Kuasa yang bersifat azali, tidak berawal dan tidak berakhir, yang menciptakan dan menjadi asal dari sekalian alam; Ia tidak dapat diraba dengan pancaindra tetapi hanya dapat diketahui dengan akal.
Brahman itu Tuhan yang tunggal dalam agam Hindu. Tetapi beberapa abad di belakang, penganut agama Hindu telah merobah kepercayaan bertuhan atu itu (monotheisme), kepada trimurti atau bertuhan tiga.
Trimurti itu terdiri dari: Brahma, Wisnu dan Syiwa.
Ahli-ahli penyelidik sejarah agama-agama banyak yang berpendapat, bahwa kemungkinan benar agama Hindu ini asalnya Samawy, agama langit yang berasal dari pengajaran Tuhan Pencipta Semesta Alam, melihat ajarannya yang asli kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi dalam perjalanan hidupnya yang sudah lama, ibarat sebuah sungai yang mengalir dari lereng gunung, sudah banyak dimasuki oleh berbagai sampah dan kotoran, sehingga dari agama Tahuhid telah berobah menjadi agama musryrik.
Apabila diperhatikan dalam kitab Weda, kitab suci agama Hindu, disitu tidak ada disebutkan Tuhan yang berbilang, hanya menyatakan ketuhanan Brahma semata-mata. Nama Wisynu dan Syiwa sifat Maha kuasa dan memusnahkan.
Para pendeta di belakang telah mengkhayalkan dalam pikiran mereka, untuk menempatkan kedua sifat Tuhan itu sebagai Tuhan yang kedua dan ketiga.
Maka di berbagai kuil-kuil penganut agama Hindu terdapat patung yang menggambarkan Trimurti itu; Patung Brahma yang mempunyai empat muka dan empat tangan; tangan pertama memegang Weda, tangan yang kedua memegang sendok, tangan yang ketiga memegang tasbih dan tangan yang keempat memegang bejana berisi air, sedangkan di sampingnya terdapat patung Tuhan yang kedua dan ketiga, yaitu Wisynu dan Syiwa.
Kitab-kitab suci agama Hindu
Kitab-kitab yang dipandang suci dalam agama Hindu ada beberapa buah. Di antaranya adalah :
1. Kitab Weda
2. Brahmana
3. Upanisyad
4. Purana
5. Tantra dan lain-lainnya.
Kitab Weda ialah kitab suci asli dalam agama Hindu yaitu kitab yang dijunjung tinggi oleh bangsa Arya, kepada kitab itulah meraka mendasarkan agama dan pandangan hidup mereka. Akan tetapi Weda yang mreka anut ketika mula-mula sampai di India baru terkenal dengan sebutan Trayi Widya (tiga Weda), yang terdiri dari ; Rigweda, Samaweda dan Yajurweda).
Weda artinya pengetahuan yang amat tinggi.
Weda yang dikenal dalam perkembangannya, kemudian terdiri dari empat himpunan kitab (samhita) yaitu;
1. Rigweda, berisi 1028/sukta atau sya’ir pujian terhadap dewa-dewa.
2. Samaweda, sebagian besar berisi sya’ir-sya’ir Rigweda, tetapi seluruhnya
memakai tanda-tanda nada untuk dapat dilagukan dan dinyanyikan.
3. Yajurweda, berisi do’a-do’a untuk mengantar saji-saji yang dipersembahkan
kepada dewa-dewa dengan diiringi pengajian Rigweda dan nyanyian Samaweda.
4. Atharwaweda, berisi mantra-mantra dan jampi-jampi untuk sihir dan ilmu ghaib,
untuk mengusir penyakit, pengikat cinta, menghancurkan musuh dan sebagainya.
Weda yang empat itu disebut “Catur Weda” yaitu empat weda.
Kitab Weda tertulis dalam bahasa Sanskerta yang tinggi, karena bahasa itu sekarang telah menjadi bahasa yang mati, maka tidaklah semua orang yang beragama Hindu dapat memahami kitab suci tersebut. Oleh sebab itu pendeta-pendeta Hindu berusaha menyalinkan sebahagian isi kitab suci itu agar dapat dibaca oleh umum.
Tentang riwayat timbulnya kitab “Weda” ini tidaklah dapat diketahui dengan pasti . Adakah pada mulanya kitab ini dibawa oleh seorang Nabi yang menerima wahyu daripada Tuhan, tidaklah ada keterangan. Siapa yang mula-mula mengajarkannya, siapakah yang menulisnya juga tak dapat diketahui.
Hanya melihat tambahan-tambahannya di belakang, menunjukkan pertumbuhannya sebagai hasil renungan dan filsafat dalam perkembangan hidup Arya Hindu di India.
Seperti telah disebutkan diatas, bahwa orang Arya sendiri pada mulanya hanya menganut tiga macam Weda yaitu ; Rigweda, Samaweda dan Yajurweda. Tetapi bangsa Dravida yang mreka dapati juga mempunyai suatu kepercayaan, pandangan hidup dan keyakinan terhadap yang ghaib. Maka sebagai hasil perpaduan hidup dan peradaban antara bangsa Arya dan penduduk Doab, lahirlah kitab weda yang keempat yang bernama Atharwaweda.
Oleh karena isinya amat berbeda dan dipandang jauh lebih rendah dari ketiga weda lainnya maka Atharwaweda tidak diakui oleh sebagian pendeta Brahma.
Tetapi tambahan-tambahan yang timbul di belakang ini membawa suatu pengertian bagi kita, bahwa weda yang ketiga dan keduapun sebenarnya timbul kemudian daripada yang pertama; dengan jelas dapat diketahui, bahwa pada mulanya weda itu hanya sebuah saja, yaitu Rigweda, kemudian disusul oleh Samaweda dan Yajurweda. Apalagi ini Samaweda dan Yajurweda sebagiannya adalah sebagai ulangan dari isi Rigweda.
Dalam Rigweda itupun terbayang juga bahwa di antara isinya terdapat catatan kisah kedatangan bangsa Arya ke lembah sungai Sindhu, disamping isinya yang berisi pujaan kepada Dewa.
Dalam pengertian yang umum pada masa kemudiannya, dimasukkan juga sebagai kitab suci weda kitab-kitab yang timbul berturut-turut di belakang, seperti; Brahmana, Upanisyad dan Purana.
Ibadat (Pemujaan)
Ibadat dalam Agama Hindu tidaklah terbatas oleh masa dan waktu, tetapi pada setiap ketika dan keadaan harus beribadat.
Ibadat dan pemujaan tidaklah hanya dihadapkan kepada Mahadewa Brahma, Wisynu dan Syiwa tetapi lebih dahulu langsung kepada tenaga dan daya alam yang dianggap sebagai dewa, yang langsung mempengaruhi kehidupan manusia. Tenaga dan kekuatan alam inilah yang sebenarnya dipuja. Nama dari masing-masing dewa itu adalah daya alam itu sendiri. Di antara dewa-dewa itu ialah :
1. Surya (Dewa Matahari)
2. Agni (Dewa Api Suci)
3. Wayu (Dewa Angin)
4. Candra (Dewa Bulan)
5. Waruna (Dewa Alam/Angkasa/Laut)
6. Marut (Dewa Badai/Topan)
7. Paryania (Dewa Hujan)
8. Acwin (Dewa Kembar atau Dewa Kesehatan)
9. Usa (Dewa Fajar)
10. Indra (Dewa Perang)
11. Wertra (Dewa Jahat)
Di antara semua Dewa-dewa itu yang terutama sekali dan paling banyak mendapat puji-pujian ialah Dewa Indra dan Agni. Dewa Indra dipandang juga sebagai Dewa Rahmat yang membawa kebahagiaan. Dewa Indra juga mendapat nama julukan dengan sebutan “Puramdara” yaitu Dewa penggempur benteng. Hal ini mengingatkan mereka ketika bangsa Arya mula-mula datang ke lembah Sindhu dengan peperangan, bertemu dengan bangsa Dravida yang bertahan dalam sembilan puluh benteng, akhirnya bangsa Dravida dapat dikalahkan. Bagi bangsa Arya kemenangan ini sebagai pertolongan dari Dewa Indra.
Dewa Indra adalah Dewa yang terus-menerus berperang menggempur Dewa Wertra, yaitu Dewa jahat yang selalu menahan air hujan dalam gumpalan-gumpalan awan. Dewa pertolongan Indra memaksa Wertra akhirnya hujan turun ke bumi.
Dalam memuja Dewa Indra, biasa dipersembahkan saji yang berisi “soma” yaitu semacam minuman dari getah tumbuh-tumbuhan candu yang bisa memabukkan. Maksud saji ini agar Dewa Indra terus berperang dalam keadaan mabok dan tak perduli, sehingga Wetra dapat, dikalahkannya.
Dewa kedua yang dianggap mulia dan lebih banyak dapat pujaan ialah Dewa Api (Agni), karena agni sebagai sahabat bagi manusia dalam hidupnya. Di dalam setiap rumah sudah tentu dibutuhkan api untuk memasak, untuk penerangan dan pemanas. Pada setiap upacara pemujaan, api tidak boleh ketinggalan, api menjadi syarat utama.
Pada waktu upacara pemujaan Dewa yang disembah di mohon agar turun, duduk diatas selembar tikar kuca (tikar rumput) yang dibentangkan, lalu barang-barang sajian dimasukkan ke dalam api, sebagai khayalan bahwa sajian ini masukkan ke dalam mulut Dewa.
Selain kepada Dewa Indra dan Agni ada juga dilakukan pemujaan, menurut kebutuhan masing-masing yang memuja. Dan bagi tiap-tiap keluarga dan rumah tangga, kepala keluarga lah yang berkewajiban melakukan saji dalam pemujaan menurut apa yang dibutuhkan oleh keluarganya.
Hanya pada ketika memuji dan memuja suatu Dewa dalam memohon kebutuhan dan hajat, si pemuja hendaklah meletakkan suatu kepercayaan dalam hatinya, bahwa tidak ada suatu dewa yang lain selain dewa yang disembahnya itu. Sekedar kita memuja ia bersifat tauhid, tetapi sebenarnya ia masih tetap musyrik.
Tentang hal saji ini tuntunan pokoknya diuraikan di dalam kitab “Brahmana” suatu kitab suci agama Hindu yang disusun sesudah keempat samhita weda itu. Didalam melakukan saji orang-orang kasta Brahmana mempunyai kedudukan yang penting. Karena menurut agama Brahmana, tergantungnya keselamatan manusia di dunia, terletak pada cara pemujaan dan melakukan sajian; dan tidalah yang dapat melakukan saji itu dengan cara setepat-tepatnya dan sebenarnya selain dari kaum Brahmana. Demikian tingginya kedudukan kaum Brahmana.
Bahkan keadaan dewa-dewa itupun tergantung kepada kaum Brahmana. Karena saji yang mereka berikan maka dewa-dewa itu dapat hidup dan berbuat sesuatu. Dengan anggapan yang demikian, Brahmana sebenarnyapun sudah dianggap dewa, dewa yang menguasai saji, saji yang menguasai segala keadaan.
Empat Kasta (Catur Warna).
Seperti telah diterangkan diatas, bahwa Tuhan yang asli dalam agama Hindu ialah Brahma. Menurut kepercayaan mereka Brahma telah menjadikan “Manu” yaitu manusia laki-laki pertama dan “shatarupa” wanita pertama. Dari mereka lahirlah manusia yang selanjutnya. Tetapi walaupun semua manusia ini berasal dari manu tetapi keadaan mereka tidaklah sama. Pada mulanya manusia yang terlahir dari manu ada empat macam manusia:
1. Yang keluar dari kepala Manu itulah manusia yang paling terbaik dan tersuci di tanah Hindu yaitu kaum pendeta yang dinamai Brahmana.
2. Yang keluar dari tangan Manu adalah manusia terbaik yang lain, yang terdiri dari raja-raja dan panglima-panglima dinamai Ksatria.
3. Yang keluar dari paha Manu adalah kaum pekerja, kasata ini dinamai Wisya.
4. Yang keluar dari kaki Manu adalah manusia yang termasuk tingkat rendah, yang dinamai Shudra.
Dari empat kasta itu lahirlah berbagai-bagai kasta yang baru, sehingga akhirnya di India terdapat ribuan golongan kasta.
Di antara kasta yang dianggap paling rendah itu ialah kasta Paria. Adapun kasta keempat yang bernama Shudra dan lain-lainnya itu, timbul dalam perkembangan di lembah Shindhu dan Doab, diadreskan kepada bangsa yang telah ditaklukkan itu, bukan dibawa dalam perkembangan Arya yang asli.
Kasta rendah itu mereka anggap tidak saja hina-dina dalam pandangan, juga dinggap najis. Sehingga orang-orang dari kasta tinggi tidak mau makan minum pada mangkok dan piring yang telah disentuh oleh orang-orang dari kasta rendah. Orang-orang dari kasta rendah yang hina-dina itu tidak boleh berdiri di depan pintu atau jendela, ketika orang-orang kasta tinggi berada didalam rumah, sebab bayangan dan hawa yang masuk bisa menjadi kotor oleh najisnya badan orang yang hina-dina itu.
Tujuan terakhir dari pelajaran hidup menurut tuntunan agama Hindu ialah menuju Nirwana, di mana nyawa kembali kepada Brahma, kepada kebahagiaan yang abadi. Untuk mencapai tujuan bahagia itu jalan yang amat mudah diberikan oleh Brahma kepada kasta tinggi terutama kepada kasta Brahmana.
Hal ini selalu menjadi pertanyaan bagi orang-orang yang berpikir, terutama bagi orang-orang mencari kebenaran, apakah Brahma menilai hambanya dari segi tingkat turunannya atau dari segi perbuatan amal dan akhlaknya.
Dibawah ini kita kutipkan sebuah gambaran Tanya jawab antara penanya dengan seorang pendeta:
‘?Apabila orang dari kasta rendah itu berkelakuan baik, beramal saleh, berilmu dan berani, adakah ia beroleh kesempatan dalam hidupnya sebagai yang diberikan kepada orang-orang dari kasta tinggi?” demikian pertanyaa orang itu’
“Tidak”-jawab pendeta- “Orang yang terlahir dari kasta rendah tidalah beroleh kesempatan menikmati seperti apa yang diberikan kepada kasta yang lebih tinggi.”
“Jika demikian tidaklah ada gunanya orang berkelakuan baik” Kata orang itu.
“Tentu saja amat berguna!”- kata para rahib.
“Jika orang berlaku baik dalam hidupnya, ia akan di berkahi dalam hidupnya yang akan datang.”
“Manakah hidup yang akan datang itu?” Tanya orang itu.
“Tiap makhluk mempunyai roh;roh itu datang dari Brahma. Brahma tidak pernah mati. Ia hidup selama-lamanya. Begitu juga roh dari sesuatu yang hidup juga tidak mati.” Jawab pendeta.
“Bagaimanakah keadaan roh itu bila seseorang telah mati ?” Tanya orang itu.
“Bila seseorang mati, rohnya keluar dari tubuhnya, lalu masuk ke dalam bayi yang baru dilahirkan. Jika ia seorang yang baik dalam hidupnya dia akan terlahir kelak ke dalam kasta yang lebih tinggi. Tapi jika ia berkelakuan jahat dalam hidupnya, curang dan kejam, maka ia nanti akan terlahir ke dalam golongan kasta yang lebih rendah.
“Bagaima pulakah jika orang itu selalu jahat mulai dari hidupnya yang pertama terus sampai ke dalam hidupnya yang lain ?” Tanya orang itu.
“Dia akan tetap lahir lagi berulang kali ke dalam kasta yang rendah, bahkan ia akan penyakitan dan menderita seumur hidupnya sebagai hukuman atas kelakuannya yang tidak baik, atau ia kan terlahir sebagai binatang yang bisu. Orang yang sangat jahat mungkin juga akan lahir sebagai gajah. Mungkin juga waktu ia menjadi gajah ia masih juga jahat, maka setelah matinya nanti lahir lagi menjadi anjing. Kalau di waktu ia menjadi anjing masih juga jahat, iakan turun dan turun lagi tingkat hidupnya sampai menjadi kutu anjing ataupun nyamuk.”
Adapun roh orang yang meninggal yang lahir kembali dengan badan baru dinamakan “ “Tumimbal lahir” dalam bahasa Arab disebut “Tanasukhul arwah” dalam bahasa inggris disebut “Reincarnation.”
Bagaimanakah roh orang yang baik dapat memasuki badan kasta yang lebih tinggi dan roh orang yang tidak baik masuk ke dalam badan orang dari kasta yang rendah atau binatang?” Tanya orang itu.
“Itulah hukum hidup” kata rahib, bahwa kebaikan harus dengan kebaikan, dan kejahatan dibalas dengan kejahatan. Hukum demikian dinamai “Karma,” yang berarti “Batas perbuatan-perbuatan atau balasan perbuatan.” Jika orang berbuat baik, orang itu akan dibalasi kebaikan dalam hidupnya yang akan datang, dan jika orang berbuat jahat dia akan celaka dalam hidupnya yang kemudian.” Jawab pendeta.
“Tapi bagaimana pulakah jika orang itu selalu baik, dalam hidupnya yang pertama terus kepada yang lain?” Tanya orang itu.
“Dia akan dikuasai kebahagiaan, umpama orang dari kasta rendah berlaku baik dalam hidupnya ia akan terlahir nanti dalam kasta yang lebih tinggi”
“Dan jika terus-menerus baik?” Tanya orang itu pula.
“Dia akan lahir lagi ke dalam kasta yang lebih tinggi.”
“Dan jika ia masih terus baik?”
“Dia akan terus-menerus meningkat hidupnya sehingga dia menjadi rahib atau Brahmana.
“Dan apakah yang akan dialami oleh pendeta yang terus menerus baik, dimakah ia akan terlahir kelak?”
“Akhirnya ia tidak akan lahir lagi;predaran dari hidupnya sudah tammat!”
“Tetapi apakah yang akan terjadi dengan roh yang selalu baik itu?”
“Telah kami beritahukan” – kata pendeta itu – bahwa semua roh datang dari Brahma, bukan? Nah, bila roh itu menatakan peredaran hidupnya, dia akan kembali menjadi satu dengan Brahma. Itulah yang dinamakan N i. r w a n a. Itulah kebahagiaan terbesar yang diharapkan oleh setiap roh. Karena itulah masing-masing orang seharusnya menuntut hidup yang baik tidak berbuat jahat, agar pada akhirnya semuanya menjadi satu dengan Brahma dan memasuki Nirwana.” (How great religion began)
Pemikiran tentang bahagia (Timbulnya berbagai aliran).
Sebagaimana haluan setiap agama hendak membawa manusia kepada kebahagiaan, demikian pula agama Brahma Hindu juga mempunyai tujuan yang demikian. Berbeda dengan agama Samawi, yang isi dan ajaran dan haluannya telah ditentukan oleh Tuhan yang mewahyukannya, maka dalam agama Hindu, sebagai agama Thabi’i, yang dasar haluannya biasa mengalami perobahan dan pengolahan dari penganut-penganutnya yang terkemuka, apalagi dalam menentukan jalan menuju kebahagiaan yang hakiki.
Kitab Weda sebagai kitab yang tertua dalam agama Brahma menuntun jalan kebahagiaan pada pemujaan-pemujaan dewa-dewa dan daya alam guna mendapatkan keberuntungan dan kebagaiaan. Apa yang diingini di alam ini ada dewanya hadapkan kepadanya pemujaan itu agar beroleh keberuntungan.
Dengan tuntunan Weda yang dianggap demikian tingginya, orang belum mendapatkan suatu pegangan yang memuaskan tentang hidup. Dalam keadaan yang demikan muncullah kasta Brahmana menonjolkan dirinya, dengan kitab Brahmanaya, memberikan kuasa mutlak kepada kasta ini, menggariskan haluan agama. Pada masa itu, antara saji kepada dewa-dewalah yang menjadi amal tertinggi, dimana Brahmana memegang peranan penting.
Dari jaman Weda sudah ada juga suatu garis pendoman hidup dalam menuju bahagia, yang disebut; “Triwarga” yaitu :
Dharma : membayarkan kewajiban-kewajiban agama dan masyarakat.
Artha : usaha untuk mengumpulkan harta.
Kama : usaha untuk mendapatkan kesengan dan kenikmatan hidup.
Setelah melalui beberapa zaman, rakyat mengikuti ajaran Weda dan Brahma semata-mata, timbullah rasa tidak puas; karena ada beberapa persoalan hidup yang belum mendapat jawaban dari pelajaran kedua kitab itu. Memang hidup ini memikat hati dan menggembirakan, tetapi dalam hidup ini manusia selalu dilingkari siksa dan bencana, dan akhir dari kehidupan hanya derita dan putus asa, kefanaan yang memusnahkan segala, sehingga segala apa yang telah diusahakan tak akan ada gunanya lagi.
Karena merenungkan hal demikian timbullah suatu cita-cita yang lebih luhur yang mereka namai : Moksa. Cita-cita berdasar kepada kepercayaan, bahwa hidup itu akan berlangsung berulang kali. Setelah mati manusia akan hidup kembali, dan dalam hidup yang baru itu keadaan manusia bergantung kepada sifat dan perbuatannya dalam hidupnya yang telah lalu. Keadaaan ini disebut Karma. Hukum Karma ini menimbulkan Samsara, yaitu Lingkaran yang merangkaikan, hidup, mati, lahir kembali, hidup lagi, mati lagi dan seterusnya. Maka cita-cita yang luhur ialah berusaha melepaskan diri dari hukum Karma, agar menjadi sempurna dan tidak dilahirkan lagi.
Pandangan hidup tentang tentang hal moksa ini timbul dari tengah-tengah kehidupan para wahaprastha (pertapa di hutan-hutan). Banyak diantara mereka yang telah amat jauh dan mendalam ilmu kebathinannya, lalu datanglah murid-murid yang berkerumun belajar kepada mereka. Karena ingin mengetahui seluk-beluk hidup dan haluan yang sebernarnya.
Dari kehidupan pertapa dengan murid-murid merekalah timbulnya suatu kitab yang baru dalam agama Hindu, yang dinamai “Upanishad”
Upanishad Artinya “Duduk di bawah sambil menghadap,” yakni si murid menghadapkan wajahnya kepada guru untuk mendengarkan dan menerima pelajaran dan pengajarannya. Pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh para pertapa kepada murid mereka di hutan-hutan yang sunyi itu, kebanyakannya bukanlah soal sehari-hari, tetapi hal-hal yang luar biasa, mendalam pelik dan rumit, dan ajaran-ajaran itu bersifat rahasia. Sebab itulah dalam kitab Upanishad yang menukilkan ajaran-ajaran dari pertapaan itu, setiap ajarannya dimulai dengan “Iti rahsyam.” (ini rahasia).
Intisari dan isi yang terpenting dari kitab Upanishad ialah : Atmawidya, yaitu pengetahuan tentang atman yakni jiwa. Sebenarnya uraian yang dikemukakannya merupakan suatu alam pikiran atau filsafat tentang yang ada. Dan memang kitab Upanishad ini selain merupakan kitab suci bagi orang Hindu, juga suatu buku pokok dalam alam pikiran dan filsafat Hindu. Pembahasan pertama yang terpenting diuraikan ialah tentang hal alam dan segala isinya, langit dan bumi. Berbagai makhluk, manusia, binatang yang berbagai jenis, pohon-pohonan dan tumbuh-tumbuhan yang bermacam ragam dan sebagainya. Baik manusia demikian pula makhluk lainnya, yang ditemui adanya di ala mini, dimulai dari tidak ada, sesudah itu ada dan akhirnya mati, dan lenyap.
Benda-benda yang lainpun demikian juga, yang tadinya kuat dan kukuh, menjadi usang, rusak, binasa, hancur dan akhirnya lenyap pula. Maka semua yang ada di ala mini hanya untuk sementara, hanya dalam batas tempat dan waktu tertentu saja. Bila keadaan tempat dan waktu sudah beralih dan berubah, menyampaikan benda kepada ketentuannya yang akhir, maka lenyaplah segala yang ada itu. Apabila semua yang ada ini sudah lenyap dan tidak ada, maka apakah lagi yang ada, apakah lagi yang tinggal?
Tidak ada !
Tidak ada inilah hakikat dari benda yang ada, inilah yang mutlak. Jadi jelaslah bahwa kenyataan dari semua yang ada ialah “tidak ada.”
Kalau semua yang kita anggap ada itu tidak ada, apakah yang sebenarnya ada?
Yang sebenarnya ada ialah yang kekal abadi, yang tidak dipengaruhi oleh batas keadaan, tempat dan waktu. Itulah yang ada. Dan yang ada itu disebut Brahma. Bagaimanakah hubungan Brahma dengan alam atau dengan semua yang ada, yang hakekatnya tidak ada itu?
Brahma dapat dimisalkan dengan nyala api, nyala yang memercikkan api, sinar dan cahaya ke mana-mana. Percikan api itu juga, sebagaimana nyala api. Percikan kembang api itu berasal dari api itu juga yang sudah terlepas dari asalnya atau pangkalnya dan tidak kembali lagi kepada apinya. Adanyapun sebentar saja, lain dari nyala api itu sendiri.
Demikian pulalah Brahma sebagai asal dan pangkal dari alam semesta ini. Ia memercikkan sinarnya ke mana-mana. Alam semesta ini laksana perckan sinar Brahma, yang terlepas dari apinya yang sesungguhnya yaitu Brahma, dan tidak kembali ke asalnya lagi. Dan adanyapun sebentar saja.
Brahma sebagai pankal dari sekalian alam memercikkan bahagian-bahagiannya ke sekitarnya. Percikan-percikan itu di sebut “Atman”. Atman mendapat bentuk dan tempat yaitu manusia, binatang dan sebagainya, yang keadaannyapun hanya sebentar saja.
Atman itu sendiri bersifat awidya, artinya tidak tahu, maka setelah ia terlepas dari Brahma, walaupun ia telah mempunyai bentuk yang tampak, ia tidak sadar akan asalnya, dan tidak mengetahui akan kesatuannya dengan Brahma, Jiwatman (masing-masing jiwa), telah terlepas dari Paramatman (antara yang maha tinggi) yaitu Brahma.
Jiwatman yang sudah terikat kepada bentuk sementara ini, yang diperlengkapi dengan pancaindra juga sifatnya, dirasakan oleh manusia sebagai penderitaaan. Dengan alat-alat panca indra yang sementara itu, manusia menggap bahwa segala yang ada dan yang tampak ini betul-betul sada, padahal semuanya itu adalah sementara belaka yang disebut maya.
Manusia berusaha untuk menembus tabir maya itu, tabir yang timbul dari perbuatan pancindra dengan karma, yaitu perbuatan dan akibatnya. Oleh karena karma maka manusia tersesat dalam lingkaran. Manusia menciptakan moksa, lepasa dari samsara dan bebas dari hokum karma. Ia berusaha dengan berbagai jala, menjauhkan segala kedunawian, meyakinkan bahwa dunia ini hanya maya, hanya sementara, bahwa dirinya juga maya, dan bahwa hakikatnya sendiri adalah Brahma, karena bersal dari Brahma.
Sadar akan persamaan dan kesatuan alam semesta ini, sama berasal dari Brahma, dinamakan Juana. Orang yang telah dapat mencapai Juana, lebur dirinya dalam Brahma. Maka berkatalah Guru kepada muridnya :
“Tatwam asi” Artinya :.. Itu (Brahma) adalah kau sendiri.” Dan masing-masing juga dapat mengatakan :
“Aham Brahmasmi!” artinya :,, Aku adalah Brahma!.
Wedanta, Samkhya dan Yoga.
Pembahasan mengenai Tuhan dan alam yang dibawa dalam Atmawidya, telah menimbulkan berbagai aliran pemikiran dan filsafat, yang masing-masingnya mengemukkan teori dan menunjukkan cara untuk mencapai moksa. Ada beberapa aliran yang timbul dalam hal ini, tetapi yang terkemuka adalah tiga yaitu :
1. Wedanta
2. Samkhya, dan
3. Yoga
Wedanta artinya kesinambungan pelajaran (keputusan kaji). Weda berarti ilmu; anta berarti akhir atau penutup. Maksudnya ialah kesimpulan terakhir dari isi kitab Upanishad. Isi pelajarannya menanamkan keyakinan serba tuggal dan serba tuhan. Yang ada hanyalah Brahma saja, segala yang terlihat, yang terdengar, segala rupa yang ada adalah Brahma sendiri. Wahdatulwujud, kesatuan Tuhan dengan alam.
Samkhya mengemukakan bahwa yang ada hakikatnya adalah dua saja, yang dinamai : Prakrti dan Purusa. Kedua-duanya kekal abadi dan menjadi pangkal dari segala yang ada. Segala yang hidup itu badan kasarnya berasal dari precikan Prakrti dan badan halusnya (Nyawanya) dari Purusa. Oleh karena Awidya (tidak tahu) timbullah persenyawaan dan perpaduan antara Prakrti dan Purusa, mendai suatu bentuk badan yang berbuat dan bergerak dan terikat oleh karma (putaran hidup dan mati, sebab dan akibat).
Maka manusia harus berusaha melenyapkan karma, agar kedua unsur abadi itu dapat suci kembali dan terpisah sebagai bermula buat selama-lamanya (moksa). Ajaran Samkhya mengingkari atau tidak mengajarkan ketuhanan Brahma sebagai dalam ajaran yang lain-lain, sebab itu alarian Samkhya ini dipandang sebagai atheisme, tidak bertuhan, walaupun ia juga mempercayai yang gaib dalam pelajarannya.
Yoga arinya perhubungan.
Yoga suatu aliran yang mengemukakan ajaran-ajaran bagaimana cara dan jalan untuk menghubungkan manusia dengan yang ada atau hakikat guna menyampaikan manusia kepada “Moksa”.
Pelajaran terpenting dalam Yoga ialah latihan-latihan untuk mengekang hawa nafsu dan berbagai keinginan jasmaniyah; hidup sederhana dan teratur mengurangi makan dan tidur, menjauhkan diri dari semua kebiasaan apa yang dianggap enak dan senang, mengurangi bicara dan sebagainya.
Latihan-latihan itu ada yang berupa sikasaan-siksaan berat terhadap diri, seperti berdiri terusmenerus diterik pada matahari, dalam hujan besar, menghadapi unggun api yang besar atau menghadapi tiupan angi malam yang sangat dingin. Ada pula yang berdiri berbulan-bulan dengan sebelah kaki, menggantukan diri dengan kaki ke atas, tidur atau duduk diatas bangku yang berpaku-paku menonjol dari bawah, dan bermacam penyiksaan badan lainnya. Selain itu ada pula latihan-latihan berat mengatur nafas. Latihan-latihan berat ini maksudnya untuk mengurangi dan menekan pengaruh maya (badan kasar), atau agar jiwa menjadi suci dalam menuju moksa.
Selain latihan-latihan penekanan kepada badan yang kasar (jasmaniah) ada lagi latihan yang penting bagi pikaran dan jiwa yang melalui tiga taraf :
1. Dharma, yaitu memusatkan pikiran dan perasaan kepada suatu benda, suatu yang dituju (yantra).
2. Dhiana, yaitu hubungan jiwa yang tidak putus-putus dengan yang satu itu, yaitu dalam pikiran.
3. Samadhi, setelah hubungan kuat dan tak putus-putus, lalu jiwa harus lebur menjadi satu dengan yantra, atau tujuan, yang dimaksud di sini yaitu Brahma, artinya Tuhan.
Bila telah sampai pada taraf yang demikian manusia telah mencapai suatu taraf yang lebih tinggi; lepas dari kedudukannya sebagai manusia biasa.
Amalan penyiksaan badan ini, akhirnya terdapat juga dalam berbagai alarian Agama Hindu, yang pada mulanya sebagai hasil dorongan dari Wedanta, tetapi berbagai alarianpun telah mengikutinya pula, bahakan orang-orang penganut Samkhya yang dianggap atheistis itupun memakianya, yaitu dengan menempatkan Prakrti sebagai badan kasar dan Purusa sebagai jiwa. Demikian juga menganut-penganut agama Budha sebahagiannya, walaupun tantangan Budha Gautama yang mula-mula terhadap agama Hindu tidak menyetujui penyksaan diri dalam menuju nirwana (Moksa).
“Nyanyian Yoga dalam bertapa” 1) Bhagawad Gita
Dalam nyanyian dan syair yang diucapkan oleh seorang Yoga yang sedang melakukan ibadatnya, dapat kita lihat bagaiman tujuan ibadat dan keyakinan mereka tentang Brahma (Tuhan itu) yang merka yakini wujudnya bersatu dengan alam, perhatikanlah Syair Yoga di bawah ini :
“Hatinya itu dengan Brahma
Sinarnya ada pada semua benda
Yang tampak ini hanyalah Brahma semata
Setiap yang ada itu sama semua
Ketahuilah bahwa jiwa Atman
Bersemayam pada tiap-tiap pencipta
Dan pada semua yang diciptakan
Dan semua yang ada itu adalah Atman (Tuhan).
Keterangan :
Seorang Yogi memandang saya (Atman) ada pada tiap-tiap benda, dan sesungguhnya (Brahma-Atman) bersatu dengan benda.
Trimurti dan Icwara
Dalam pembahasan yang lalu telah diterangkan mengenai ketuhanan dalam agama Hindu, yang pada mulanya hanya mengakui satu Tuhan yang dinamai Brahma, yaitu yang telah menjadikan segala yang ada, dan menjadi asal dari sekalian yang ada, bersifat abadi dan azali, tidak berawal dan tidak berakhir.
Adanya atau wujudnya tidak dapat diraba dengan pancaindra dapat dicapai dengan pikiran yang bening bersih. Karena adanya yang demikian, pada taraf pertama orang menyebut Tuhannya itu dengan “SANG HIYANG TAYA”, Sang Hiyang Tuhan : Taya tidak ada (tidak dapat dilihat dan diraba), ghaib, tetapi pasti adanya. Kalimat Hiyang sampai sekarang dalam kalangan bangsa kita masih terpakai, seperti: Sembahyang (Sembah Hiyang), menyembah Tuhan.
Dalam memandang dan merunungi alam yang terjadi, pemikiran mereka tertuju kepada sifatnya “yang menjadikan” (Brahma). Dua keadaan yang selalu ada dalam keadaan alam yang terlah terjadi itu, yaitu sejatera dan binasa ; keduanya itu timbul dari dua sifat Brahma, yaitu Wisynu dan Syiwa, yang memelihara dan membinasakan. Tetapi agama Hindu yang banyak berdasarkan khyal, kedua sifat dari Tuhan Brahma itu di khayalkan labi wujudnya, terdiri di kanan dan kiri Brahma, dan akhirnya dipatungkan. Lalu dibullah kepercayaan baru, bahwa Tuhan itu tiga yang bersatu, disebut Trimurti, yang terdiri dari Brahma, Wisynu dan Syiwa.
Ketiga Tuhan itu memgang ICWARA, yakni kekuatan tertinggi, yaitu :
- Mencipta
- Memelihara dan melangsungkan
- Membinasakan
Ketiga macam kekuasaan tertinggi itu dipegang oleh Dewa tertentu; Mencipta dipegang oleh Brahma; memelihara oleh Wisynu dan membinasakan oleh Syiwa.
Diantara ketiga dewa tertinggi itu yang mendapat pujaan luar biasa banyaknya ialah Wisynu dan Syiwa. Hal ini karena manusia dalam menghadapi keadaan bukan lagi mengutamakan ingat kepada kejadian alam, tetapi kelangsungan hidup dan keselamatannya. Akhirnya dalam pemujaan Dewa yang menjadikan, yaitu Brahma, terdesak oleh Wisynu dan Syiwa.
Waisnawara dan Caiwa
Sebahagian penganut Hindu ada yang mengutamakan pemujaan kepada Wisynu sebahagiannya lagi lebih mengutamakan pemujaan kepada Syiwa.
Pemuja Wisynu dinamai Waisnawara
Pemuja Syiwa dinamai Caiwa
Masing-masing mereka tetap dengan keyakinan trimurtinya. Tetapi golongan Waisnawara ada yang beranggapan bahwa Wisynu adalah Syiwa dalam bentuknya sebagai Dewa pembinasa.
Begitu pula sebaliknya golongan Syiwa menganggap bahwa Syiwa itulah Wisynu dalam bentuknya sebagai Dewa pemelihara.
Dalam kenyataan yang umum, di antara Trimurti itu, Syiwa ditempatkan sebagai Mahadewa atau Mahacwara, disebut juga Dewa waktu atau Mahakala. Segala yang binasa, runtuh dan tumbang di dunia ini dibawa oleh putaran waktu dan masa demikian pula apa yang timbul dan terjadi. Maka tidak jarang pula dalam melakukan pujaan kepada Syiwa disertai permohonan akan kemurahannya dengan rasa takut dan khusyu akan kehebatan dan kekuasaanya.
Selain dipandang yang Mahakuasa yang ikut berwujud dalam perpaduan Icwara sebagai Mahadewa, Mahacwara Syiwa juga dipandang sebagai Mahaguru dan Mahayogi yang menjadi pembimbing sebagai Mahaguru dan Mahayogi yang menjadi pembimbing dan pemimpin para pertapa, atau sebagai Bairawa yang gagah perkasa yang merusak menghancurkan segala yang ada.
Adapun Wisynu dalam segala keadaannya tetap dianggap sebagai pelindung yang memelihara dan melangsungkan semesta alam. Ia dikhayalkan dan digambarkan setiap saat dengan berbagai rupa dan bentuk, yang setiap saat dalam memberantas dan menghalaukan bahaya yang mengancam dunia. Untuk melaksanakan perlindungannya ia turunkan ke dunia dengan rupa menjelma yang sesuai dengan bahaya yang dihadapi.
Penjelmaan (awatara) yang dikhayalkan itu banyak sekali, tetapi disimpulkan saja dalam sepuluh rupa. Sembilan diantaranya sudah terjadi. Penjelmaan-penjelmaan Wisynu itu ialah :
1. Marsya awatara, digambarkan sebagai ikan yang menolong manu (manusia pertama), dihindarkannya dari air bah yang mengancam dunia.
2. Karma awatara, digambarkan sebagai kura-kura, berdiri di dasar laut menjadi alas Gunung Mandara yang dipakai oleh para Dewa-dewa untuk mengacau laut.
3. Wraha awatara, menjadi babi hutan mengangkat dunia kembali ke tempatnya, ketika dunia ditarik ke dalam kegelapan.
4. Marasimba awatara, menjadi singa manusia ketika ia turun hendak membunuh seorang raksasa yang sangat bengis dan sakti yang bernama Hira-akasipu ayng selalu mengancam manusia.
5. Wamaha awatara, seorang kerdil turun ke dunia menemui Ditha Bali yang zhalim memerintah, Wisynu meminta tanah kepadanya seluas tiga langkah. Dari tanah yang tiga langkah ini Wisynu dapat menguasai dunia, angkasa dan sorga. Wisynu naik menjadi dewa matahari.
6. Pracurana awatara, menjadi pahlawan Rama yang membawa kampak. Ingat dalam cerita Ramayana.
7. Rama awatara, yang memerangi Rawana dalam kisah Ramayana.
8. Krena awatara, menjelma menjadi Kresna yang membantu para Pandawa dalam menuntut keadilan dari para Kurawa.
9. Budha awatara, menjelma menjadi Budha yang menyiarkan agama-agama palsu yang melemahkan para Dewa.
10. Kalki awatara, Wisynu akan dating menunggang kuda putih dan pedang terhunus pada akhir zaman ketika dunia terancam oleh kemusnahan, kejahatan dan kekejaman, Wisynu akan mengembalikannya kepada keadilan dan kesejahteraan.
Kitab Purana
Kitab purana ialah kitab suci yang dijunjung tinggi oleh golongan Waisnawara dan Ciwa. Berisi cerita kuno yang dikumpulkan dari dongeng-dongeng yang hidup dalam kalangan rakyat.
Selain itu dalam Purana ada juga dijelaskan kedudukan Dewa Brahma, bahwa Dewa-dewa Brahma benar-benar Dewa pencipta yang menjadikan, dia juga yang menjadikan dirinya sendiri, Swayambehu atau terjadi sendiri, dan daripada dirinya sendiri pula seluruh ala mini dijadikannya.
Cakta (kesaktian) dan kitab Tantra
Pemikiran dan filsafat ketuhanan dalam sebahagian penganut Hindu pada pokoknya mengakui bahwa Dewa-dewa itu sebagai Tuhan yang bersifat kekal dan abadi, akan tetapi sesuatu yang bersifat kekal dan abadi, tidak berawal dan tak berakhir, tidak akam mungkin menjadikan sesuatu, tidak akan berbuat apa-apa.
Maka jika dianggap bukan mreka yang menjadikan ala mini, sipakah yang sebenarnya menjadikan. Yang menjadikan alam bukanlah diri mereka sendiri, tetapi tenaga gaib yang meliputi diri dewa itu. Tenaga gaib dinamai sakti. Sakti inilah yang berbuat dan menjadikan. Suatu dewa barulah dianggap lengkap kekuasaanya jika didampingi oleh sakti (kesaktiannya) itu. Sebagaimana keadaan manusia dapat melangsungkan turunan hidupnya jika terdiri dari suami istri, maka dalam menjadikan alam dan melangsungkan adanya, dewapun harus terdiri dari rangkapan, yaitu jika ia didampingi oleh isterinya.
Oleh karena itu dikhayalkanlah oleh mereka, bahwa dewa Brahma mempunyai isteri yang bernama Saraswati (Dewi kecantikan, dewa ilmu pengetahuan dan kesenian), Istri Wisynu bernana Laksmi atau Sri (Dewi kebahagian), Pratiwi isteri Syiwa bernama Uma atau Prawati, di mana sifat dan kekuatan masing-masing dewi itu diselaraskan dengan keadaan suami mereka; demikianpun isteri Syiwa yang bernama Uma (Pratiwi) itu dinamai juga Durga sebagai isteri Syiwa yang Maha Kuasa.
Di tengah-tengah aliran Catwa akhirnya timbullah suatu aliran yang mencari jalan yang sesingkat-singkatnya mencari moksa, yaitu mengalihkan pemujaan kepada Cakti Syiwa semata-mata, yaitu kepada Dewa Durga. Golongan ini dinamai Cakta. Kitab suci yang khusus dalam aliran Cakta ini ialah Tantra, atau dinamai juga agama. Dalam kitab Tantra ini dijelaskan hal-hal mengengai peninjauan, mantra-mantra, jampi-jampi sihir dan sebagainya. Latihan-latihan dalam cara yang lebih pendek meniadakan dirinya, lebur bersatu dengan Tuhan.
Terkadang-kadang hal-hal yang terlarang dalam agama Hindu lainnya, merupakan upara suci bagi mereka. Seperti lima macam yang terlarang, yaitu : daging, ikan, arak, persetubuhan (perzinaan) dan sihir. Golongan cakta atau penganut Tantra ini, biasa juga dinamai Tantrayana.
Binatang yang dihormati dan berbagai upacara.
Umummnya penganut Hindu/Brahma menggap suci binatang lembu dan mengharamkan memakannya; mereka beranggapan bahwa roh-roh suci menempati tubuh binatang itu. Karena itulah pada masa-masa yang lalu sering terjadi persengketaan antara penganut Hindu dan Islam di India yaitu pada waktu orang-orang Islam biasa melakukan qurban, di bulan Dzulhijjah.
Selain daripada lembu ada juga binatang lain yang mereka anggap suci, yaitu ular-ular besar, buaya dan beruk (monyet). Mereka juga mensucikan sungai Gangga. Mandi menyelam di sungai Gangga dapat mensucikan diri daripada dosa, sebab itu setipa tahun pada waktu yang tertentu berjuta-juta penganut Hindu/Brahma dari seluruh penjuru tanah India dating berkumpul ke tepi sungai Gangga di Benares, untuk melakukan mandi dan beribadat di sana.
Mayat orang beragama Hindu bukan dikubur, tetapi dibakar; kebiasaannya debunya ditaburkan ke dalam sungai Gangga.
Seorang perempuan yang kematian suami, menurut aturan Hindu, juga wajib dibakar bersama-sama dengan suaminya waluapun si isteri masih hidup; hal ini dilakukan – kata mereka sebagai bukti tanda dari cinta sehidup-semati. Adat yang seperti ini dinamai Shatee (sati). Akan tetapi hal ini tidak berlaku dalam keadaan sebaliknya yaiut jika si insteri yang meninggal lebih dahulu, suaminya tidak akan dibakar bersama dia. Jika ditanyakan kepada mereka, apa sebabnya suaminya tidak ikut dibakar bersama insterinya? Mereka menjawab : “Laki-laki dibutuhkan untuk membela keluarnya”,
Adat shatee yang kurang baiknya ini telah mulai dilarang oleh kerjaan-kerajaan Islam yang dahulu berkuasa di India, kemudian Pemerintah Inggris melanjutkan larangan itu sampai ke akhir masa pemerintahan Inggris di India. Mengenai upacara ibadat, walaupun di atas telah kita sebutkan juga sedikit, baik juga di sini ditambahkan hal-hal lainnya. Dalam upacara sembahyang dipakai api dengan asap menyan dan dupa setanggi yang mengepul dalam parupuyan; dipergunakan juga arca-arca sebagai pelambang dari dewa-dewa yang disembah itu.
Parupuyan (wadah api berisi menyan itu) diletakkan di depan arca, sedang yang melakukan upacara itu berjongkok dan berlutut di depan arca, dengan menyusun sepuluh jari, menyembah dan mengucapkan kata du’a, yang kebiasaannya diambil dari ayat-ayat Rigweda. Selain itu, dalam upacara yang agak tinggi, penyembahan harus disertai dengan sajian yang dipersembahkan kepada Dewa-dewa.
Pertapaan adalah suatu ibadah tertinggi. Tapa menyisihkan diri di hutan sunyi, sambil melakukan sembahyang dan puasa, selain merupakan ibadat, juga dipergunakan mencari hikmat dan kekuatan gaib.
Puasa dalam agama Hindu termasuk ibadat tinggi; selama berpuasa tidak makan dan tidak minum siang dan malam, lamanya terkadang sampai empatpuluh hari, yang selama itu hanya minum sedikit air. Melaparkan diri dalam masa yang lama itu, dalam rangka penyiksaan diri, mendekatkan jiwa (atman) ke alam Nirwana. Bahkan ada juga yang melakukan ibadat puasanya tidak makan dan minum terus menerus sampai mati; katanya itulah ibadat yang paling tinggi seperti yang masyhur dalam sejarah bahwa raja Sreyama dan permaisurinya Tresala (Ayahhanda dan ibunda Mahawira) meninggal dengan kematian suci yaitu dalam melakukan puasa terus-menerus.
Tentang ibadat haji dalam agam Hindu, seperti yang telah kita sebutkan diatas, yaitu berkumpul untuk mandi menghapus dosa di sungai Gangga di kota Benares.
Di dalam agama Hindu terdapat juga berbagai ucapan-ucapan jampe (Dzikir dan tasbih) seperti juga yang terdapat dalam agama-agama lain. Yaitu kalimat suci dan tinggi dalam memuji dewa-dewa. Dalam mengucapkan kata-kata itu biasa juga dihitung sampai seratus, dengan mempergunakan untaian aksamala.
Aksamala yang terpakai dalam agama Hindu itu, akhirnya telah dipakai pula oleh penganut-penganut agama lain, seperti sebahagian dari umat Islam, yang namanya sudah di robah dengan “untaian tasbih”.
Sebagaimana di pelajari sunnah yang asli dari Nabi Muhammad, untuk menghitung jumlahnya dalam dalam tasbih, kita hanya disuruh dengan jari kita, dan bukan dengan butiran kayu (aksamala). Dalam hal ini ummat Islam terpengaruh oleh penganut Hindu. Bagaimana untaian aksamala ini menjadi alat upacara ibadat yang penting dalam agama Hindu, kita lihat pada patung Brahma yang mempunyai empat tangan itu, sebuah tangannya memegang tasbih (aksamala).
Selanjutnya…………………..Pengaruh Hindu/Brahma kepada penganut agama lai.
Jumat, 2008 Agustus 08
"LEAK NGAMAH SANDAL ..."
Miribang tyang sami sampun uning ring kawentenang Forum ring www.iloveblue.com. Yening wenten sane durung medaptar, durusang pramangkin medaptar. Irika, ring paindikan Mistik Bali, wenten sane metaken napike sujatine wenten utawi sampun semeton iragane ngaturang paindikan akeh wantah sujati makeh taler sane nganikang leak punika nenten ja wenten.
Daweg tyang lan semeton-sameton ring Blue melancaran ka genah Air Terjun Sekumpul ring Sawan-Buleleng. Ring pemargine marika, sawetara nampek ring Bedugul, tyang lan sameton sami malih mabligbagan indik leak punika. Sesampune ngorta makangin-kauh, tyang meled taler ngeraosang indik leak punika.
Sami timpal-timpal tyange meneng, meled pisan uning ring kawentenan leak punika. Tyang ngawitin nuturang: "Leak punika wantah sujati wenten." Wenten semetone sane meanggutan, pinaka cihna ngarsaang pateh. Tyang ngelanturang: "Satua puniki pirengang tyang ring BaliTV. Duk punika, magenah ring pakubon ring wewidangan Tabanan. Rikala wenten bebalihan ring bale banjare, makeh pisan krama banjare sane nonton. Satuan wayange ngulangudin pisan tur dalange sane sebet pisan nyolahang wayang. Ri sesampune sasolahan wayange puput, makasiki ida dane budal ka jeroan soang soang. Wenten pekak-pekak tua sane merika meriki, nyeliksik ngarereh sandalnyane. Sesampune suwe ngarerehin ... ngantos telas peluhnyane nyerekcek, pekak punika medadi pedih. Saget medal bawosnyane..."Leak apa...sandal amaha!!".
Nah...ngawit punika tyang wawu tetes uning, leak punika wantah wenten tur Leak bisa ngamah sandal ...huehue.
-Bli Sopir Dokar
MANDIKAN AKU BUNDA!
Kisah ini nyata dari seorang teman...
maaf kalo sudah pernah dibaca…sekedar mengingatkan kita pada si buah hati)
** Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis.
Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya .....
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? '' Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''.
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?'' Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
-Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
-Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat
sangat.
-Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri
tidak mengabaikan orang2 di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu
'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu.
-Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang
diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka
menyayanginya dan tetap akan ada.
-Pelajaran yang sangat menyedihkan.
Semoga yang membacanya bisa mengambil makna yang terkandung dalam kisah tsb.
Rabu, 2008 Agustus 06
Asal Usul Nama Indonesia

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam
catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai *Nan-hai* (Kepulauan
Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini *
Dwipantara* (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata
Sansekerta *dwipa* (pulau) dan *antara* (luar, seberang). Kisah Ramayana
karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap
Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke *Suwarnadwipa* (Pulau Emas,
yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita *Jaza'ir al-Jawi* (Kepulauan Jawa). Nama
Latin untuk kemenyan adalah *benzoe*, berasal dari bahasa Arab *luban
jawi*(kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan
dari batang
pohon *Styrax sumatrana* yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari
ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan
orang Indonesia luar Jawa sekalipun. "Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh
Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)" kata seorang pedagang di
Pasar Seng, Mekah.
Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang
pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab,
Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara
Persia dan Cina semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka
sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang".
Sedangkan tanah air kita memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (*Indische
Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien*) atau "Hindia Timur" *(Oost
Indie, East Indies, Indes Orientales)*. Nama lain yang juga dipakai adalah
"Kepulauan Melayu" (*Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel
Malais*).
Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang
digunakan adalah *Nederlandsch-Indie* (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah
pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah *To-Indo* (Hindia Timur). Eduard
Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli,
pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air
kita, yaitu *Insulinde*, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin
*insula* berarti pulau). Tetapi rupanya nama *Insulinde* ini kurang populer.
Bagi orang Bandung, *Insulinde* mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku
yang pernah ada di Jalan Otista.
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang
kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli),
memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur
kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah
tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton,
naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19
lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas
Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh
berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit
Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam
bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari
*Jawadwipa*(Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa
dari Gajah Mada,
*"Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" *(Jika telah kalah
pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi
kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi
pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara,
maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua
dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang
modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer
penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.
Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah
tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan
negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan
nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.
Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, *Journal
of the Indian Archipelago and Eastern Asia* (JIAEA), yang dikelola oleh
James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana
hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli
etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865),
menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel *On
the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian
Nations*. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi
penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (*a
distinctive name*), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan
penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: *Indunesia*atau
*Malayunesia* (*nesos* dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71
artikelnya itu tertulis: *... the inhabitants of the Indian Archipelago or
Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.*
Earl sendiri menyatakan memilih nama *Malayunesia* (Kepulauan Melayu)
daripada *Indunesia* (Kepulauan Hindia), sebab *Malayunesia* sangat tepat
untuk ras Melayu, sedangkan *Indunesia* bisa juga digunakan untuk Ceylon
(Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa
Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang
menggunakan istilah *Malayunesia* dan tidak memakai istilah *Indunesia*.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan
menulis artikel *The Ethnology of the Indian Archipelago.* Pada awal
tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air
kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan.
Logan memungut nama *Indunesia* yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya
dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada
halaman 254 dalam tulisan Logan: *Mr. Earl suggests the ethnographical term
Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely
geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the
Indian Islands or the Indian Archipelago.* Ketika mengusulkan nama
"Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu
akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat
keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam
tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di
kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru
besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905)
menerbitkan buku *Indonesien oder die Inseln des Malayischen
Archipel*sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika
mengembara ke
tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan
istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul
anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak
benar itu, antara lain tercantum dalam *Encyclopedie van
Nederlandsch-Indie*tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah
"Indonesia" itu dari
tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah
Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda
tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama *Indonesische
Pers-bureau.*
Makna politis
Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam
etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan
kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki
makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan!
Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian
kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa *Handels
Hoogeschool* (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan
mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan
nama *Indische
Vereeniging*) berubah nama menjadi *Indonesische Vereeniging* atau
Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi
Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, "Negara Indonesia Merdeka yang akan
datang (*de toekomstige vrije Indonesische staat*) mustahil disebut "Hindia
Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan
dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan
politik (*een politiek doel*), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu
tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (*
Indonesier*) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."
Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan *Indonesische Studie
Club*pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia
berganti nama
menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 *Jong
Islamieten Bond* membentuk kepanduan *Nationaal Indonesische
Padvinderij*(Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang
mula-mula menggunakan
nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah
air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal
28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota *Volksraad* (Dewan Rakyat; DPR
zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo
Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama
"Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi
Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.
Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan
Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda" untuk
selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah
Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.
Dirgahayu Indonesiaku!***
*Penulis,* *Direktur Pendidikan "Ganesha Operation"*
(¨`•.•´¨)
`•.¸(¨`•.•´¨ ) Keep
(¨`•.•´¨)¸.•´Smile : )
`•.¸.•´
Senin, 2008 Agustus 04
KEJAMNYA ABORSI................
Berikut ini adalah gambaran mengenai apa yang terjadi didalam suatu proses aborsi:
Pada kehamilan muda (dibawah 1 bulan)
Pada kehamilan muda, dimana usia janin masih sangat kecil, aborsi dilakukan dengan cara menggunakan alat penghisap (suction). Sang anak yang masih sangat lembut langsung terhisap dan hancur berantakan. Saat dikeluarkan, dapat dilihat cairan merah berupa gumpalan-gumpalan darah dari janin yang baru dibunuh tersebut.
Pada kehamilan lebih lanjut (1-3 bulan)
Pada tahap ini, dimana janin baru berusia sekitar beberapa minggu, bagian-bagian tubuhnya mulai terbentuk. Aborsi dilakukan dengan cara menusuk anak tersebut kemudian bagian-bagian tubuhnya dipotong-potong dengan menggunakan
semacam tang khusus untuk aborsi (cunam abortus). Anak dalam kandungan itu diraih dengan menggunakan tang tersebut, dengan cara menusuk bagian manapun yang bisa tercapai. Bisa lambung, pinggang, bahu atau leher. Kemudian setelah ditusuk, dihancurkan bagian-bagian tubuhnya. Tulang-tulangnya di remukkan dan seluruh bagian tubuhnya disobek-sobek menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan.
Dalam klinik aborsi, bisa dilihat potongan-potongan bayi yang dihancurkan ini. Ada potongan tangan, potongan kaki, potongan kepala dan bagian-bagian tubuh lain yang mungil. Anak tak berdosa yang masih sedemikian kecil telah dibunuh dengan cara yang paling mengerikan.
Aborsi pada kehamilan lanjutan (3 sampai 6 bulan)
Pada tahap ini, bayi sudah semakin besar dan bagian-bagian tubuhnya sudah terlihat jelas. Jantungnya sudah berdetak, tangannya sudah bisa menggenggam.. Tubuhnya sudah bisa merasakan sakit, karena jaringan syarafnya sudah terbentuk dengan baik.
Aborsi dilakukan dengan terlebih dahulu membunuh bayi ini sebelum dikeluarkan. Pertama, diberikan suntikan maut (saline) yang langsung dimasukkan kedalam ketuban bayi. Cairan ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan, menyesakkan pernafasannya dan akhirnya setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari bayi itu akhirnya meninggal. Selama proses ini dilakukan, bayi akan berontak, mencoba berteriak dan jantungnya berdetak keras. Aborsi bukan saja merupakan pembunuhan, tetapi pembunuhan secara amat keji. Setiap wanita harus sadar mengenai hal ini.
Aborsi pada kehamilan besar (6 sampai 9 bulan)
Pada tahap ini, bayi sudah sangat jelas terbentuk. Wajahnya sudah kelihatan, termasuk mata, hidung, bibir dan telinganya yang mungil. Jari-jarinya juga sudah menjadi lebih jelas dan otaknya sudah berfungsi baik. Untuk kasus seperti ini, proses aborsi dilakukan dengan cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup, kemudian dibunuh. Cara membunuhnya mudah saja, biasanya langsung dilemparkan ke tempat sampah, ditenggelamkan kedalam air atau dipukul kepalanya hingga pecah. Sehingga tangisannya berhenti dan pekerjaan aborsi itu selesai. Selesai dengan tuntas hanya saja darah bayi itu yang akan mengingatkan orang-orang yang terlibat didalam aborsi ini bahwa pembunuhan keji telah terjadi.
Semua proses ini seringkali tidak disadari oleh para wanita calon ibu yang melakukan aborsi. Mereka merasa bahwa aborsi itu cepat dan tidak sakit, mereka tidak sadar karena dibawah pengaruh obat bius. Mereka bisa segera pulang tidak lama setelah aborsi dilakukan.
Benar, bagi sang wanita, proses aborsi cepat dan tidak sakit. Tapi bagi bayi, itu adalah proses yang sangat mengerikan, menyakitkan, dan benar-benar tidak manusiawi. Kematian bayi yang tidak berdosa itu tidak disaksikan
oleh sang calon ibu. Seorang wanita yang kelak menjadi ibu yang seharusnya memeluk dan menggendong bayinya, telah menjadi algojo bagi anaknya sendiri.
Jadi aborsi itu adalah pembunuhan.... yang keji !!!!!!!!!!!














